Komunikasi yang inklusif menjadi salah satu aspek penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang setara bagi komunitas Tuli. Hambatan komunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman saat menyampaikan keluhan, memahami penjelasan tenaga kesehatan, hingga mengikuti petunjuk penggunaan obat.
Dalam Seminar Rabuan pada 7 Oktober 2026, dr. Ardhina Ramania, M.P.H, dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM bersama Dhomas Erika Ratnasari, S.Sos., M.A perwakilan DPC Gerkatin Kota Yogyakarta membahas pengembangan program penguatan komunikasi kesehatan yang lebih ramah bagi pasien Tuli.
Program ini dikembangkan dengan melibatkan komunitas Tuli dan tenaga kesehatan untuk mengenali kebutuhan komunikasi di fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu upayanya adalah penyediaan communication kit berupa media visual dan alat bantu komunikasi untuk membantu pasien menyampaikan keluhan serta memahami informasi kesehatan dan penggunaan obat. Pelatihan dasar bahasa isyarat juga dilakukan untuk mendukung komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien.
Kebutuhan komunikasi setiap individu Tuli dapat berbeda. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu menanyakan cara komunikasi yang paling nyaman bagi pasien, menyampaikan informasi dengan jelas, serta memastikan pasien memahami penjelasan yang diberikan. Keterlibatan komunitas Tuli dalam pengembangan program juga penting agar solusi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Penguatan komunikasi kesehatan inklusif diharapkan dapat mendukung pelayanan yang lebih mudah diakses, nyaman, dan setara. Komunikasi yang aksesibel bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian penting dari upaya memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi setiap orang.