Kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) semakin banyak dimanfaatkan dalam layanan kesehatan, mulai dari membantu analisis radiologi hingga mendukung dokumentasi klinis. Namun, penggunaannya perlu disertai tata kelola yang memastikan keamanan pasien, perlindungan data, dan ketepatan hasil.
Dr. Gregorius Brimantoro, Advisor Association of HealthTech Indonesia, menekankan pentingnya validasi AI sesuai konteks lokal, pengawasan tenaga kesehatan, serta pemantauan kinerja sistem. AI perlu menjadi alat bantu yang mendukung pelayanan, bukan menggantikan pertimbangan klinis tenaga kesehatan.
Sementara itu, dr. Ahmad Hidayat, M.Sc, MBA, menyoroti perlunya tata kelola data kesehatan yang aman dan interoperabilitas antarsistem. Pengembangan AI juga perlu mempertimbangkan kedaulatan data, perlindungan privasi, serta kesiapan infrastruktur kesehatan di Indonesia.
Dari perspektif penelitian dan penerapan klinis, Annisa Ristya Rahmanti, S.Gz, Dietisien, MS., Ph.D, mengingatkan bahwa hasil AI tetap perlu diverifikasi oleh tenaga ahli. Kesalahan dalam merangkum informasi klinis dapat memengaruhi keputusan pelayanan sehingga transparansi, akuntabilitas, dan keselamatan pasien harus menjadi perhatian utama.
dr. M Lutfan Lazuardi, M.Kes, PhD, turut menekankan pentingnya literasi AI dan kemampuan berpikir kritis bagi tenaga kesehatan. Penggunaan AI perlu diimbangi dengan kompetensi digital, tata kelola institusi, dan pengujian dalam alur kerja klinis nyata.
Penerapan AI dalam layanan kesehatan pada akhirnya membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan, peneliti, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan agar inovasi dapat digunakan secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan masyarakat.