Dua perspektif berbeda namun saling melengkapi hadir dalam seminar ini: pengalaman sistem asuransi kesehatan Jerman dari Prof. Jens Geissler, dan realita implementasi di lapangan dari Prof. Ali Ghufron Mukti, mantan Direktur Utama BPJS Kesehatan.
Beberapa poin kunci yang menjadi benang merah diskusi:
- Digitalisasi dan AI harus berjalan paralel, bukan berurutan. Menunggu digitalisasi tuntas sebelum membangun kapasitas AI adalah strategi yang keliru — keduanya adalah proses pembelajaran yang saling mendukung dan tidak bisa dipisahkan secara sekuensial.
- Proses bisnis yang buruk tidak bisa diselamatkan teknologi. AI hanya bekerja optimal jika dibangun di atas proses yang sudah dipahami dan distandardisasi. Mendigitalisasi kekacauan hanya menghasilkan kekacauan yang lebih cepat.
- Model AI luar negeri tidak bisa langsung diterapkan. Perbedaan budaya, pola makan, struktur layanan kesehatan, hingga kondisi geografis kepulauan membuat validasi lokal menjadi mutlak — bukan opsional.
- Indonesia sudah lebih jauh dari yang disadari. Cakupan 278 juta jiwa atau 98 persen penduduk dalam sepuluh tahun menjadi benchmark internasional — jauh melampaui banyak negara maju untuk target serupa, menurut data Lancet yang dikutip Prof. Ghufron. Mobile JKN, deteksi fraud berbasis AI, telemedisin, hingga kolaborasi data riset dengan universitas luar negeri sudah berjalan. Tantangan utama yang tersisa bukan pada teknologinya, melainkan pada literasi pengguna dan interoperabilitas antar sistem.
Materi: