Teknologi pemetaan digital ternyata sudah lama bekerja jauh melampaui fungsi navigasi sehari-hari. Dalam sebuah kuliah tamu yang digelar secara hibrid, Lukas von Tobel, Ph.D., project manager dari Novel-T, perusahaan rekayasa sistem informasi yang berbasis di Jenewa, Swiss, dengan fokus pada proyek kesehatan masyarakat dan dampak sosial bersama PBB dan berbagai pemerintahan, memaparkan bagaimana Geographic Information Systems (GIS) diterapkan secara nyata di lapangan, mulai dari kampanye vaksinasi di Nigeria hingga pengawasan air limbah di Dhaka, Bangladesh.
Salah satu poin yang ia tekankan adalah keterbatasan mendasar dari pendekatan konvensional. Selama ini, banyak petugas kesehatan di lapangan masih mengandalkan peta yang digambar tangan untuk merencanakan imunisasi. Masalahnya sederhana namun berdampak besar: peta semacam itu hanya mencerminkan apa yang diketahui si pembuat. Permukiman yang tidak dikenal otomatis tidak masuk perencanaan, dan warga di sana luput dari layanan. Dengan basis data geospasial berbasis citra satelit, permukiman yang sebelumnya tidak terpetakan bisa dideteksi, meski verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk nama, batas wilayah, dan titik-titik kepentingan tertentu.
Sistem microplanning digital yang dikembangkan bersama WHO itu telah diterapkan pada sekitar seribu fasilitas kesehatan di dua negara bagian Nigeria. Sistem ini memungkinkan petugas menghitung jarak ke setiap permukiman, memperkirakan jumlah penduduk, dan menentukan strategi layanan yang paling tepat. Lebih jauh, sistem pelacakan lapangan berbasis GPS yang mereka kembangkan pernah digunakan untuk memonitor 40.000 tim sekaligus dalam kampanye penanganan polio di Nigeria, secara real-time dalam satu hari yang sama.
Di bidang surveilans lingkungan, von Tobel memperkenalkan pendekatan pengambilan sampel air limbah yang dipandu GIS untuk mendeteksi keberadaan virus tanpa harus menunggu gejala klinis muncul pada pasien. Sistem ini, yang kini dikelola WHO, mampu menghitung estimasi populasi yang berkontribusi ke setiap titik sampling berdasarkan wilayah tangkapan aliran air. Ia juga memaparkan riset yang masih berjalan untuk menggunakan kecerdasan buatan, khususnya convolutional neural network (CNN), guna mendeteksi fitur jaringan drainase secara otomatis dari citra kamera jalanan dan drone, sebuah pendekatan yang ia akui masih dalam tahap pengembangan aktif.
Perspektif berbeda datang dari pembicara kedua yang hadir secara virtual, Anis Fuad, S.Ked., DEA, dari Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi UGM. Ia menarik garis panjang dari peta wabah kolera John Snow tahun 1854 hingga era kecerdasan geospasial berbasis AI saat ini, dan menegaskan bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk memperkuat respons kesehatan masyarakat terhadap ancaman pandemi. Ia juga menyoroti tantangan konkret di Indonesia: inkonsistensi data antara tingkat desa dan nasional, perubahan batas administratif yang terus bergerak, jumlah kabupaten di Indonesia telah bertambah signifikan dalam satu dekade terakhir menurut data yang dikutip pembicara, serta pentingnya tata kelola data yang solid sebelum AI bisa dimanfaatkan secara andal.
Sesi diskusi menyentuh sejumlah isu praktis: cara memilih titik sampling optimal saat sumber daya terbatas, cara membedakan wabah dari penyakit musiman menggunakan data historis sebagai baseline, hingga tantangan koordinasi data lintas kementerian dan tingkat pemerintahan yang kerap menjadi hambatan klasik dalam implementasi GIS.
Materi: