Dalam Pidato Dies Natalis ke-76 Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Adi Utarini, M.Ph., Ph.D. menekankan bahwa masa depan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas kesehatan dan kesejahteraan generasi mudanya.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia. Indikator Human Development Index (HDI) dan Human Capital Index (HCI) menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara berpendapatan menengah lainnya. Dengan HCI sebesar 0,54, seorang anak yang lahir di Indonesia diperkirakan hanya mampu mencapai 54% dari potensi produktivitas maksimalnya saat dewasa apabila tidak ada intervensi yang bermakna.
Di sisi lain, Indonesia sedang memasuki fase bonus demografi. Dalam lima tahun ke depan, kelompok usia produktif akan mencapai sekitar 70% dari total penduduk. Momentum ini merupakan peluang strategis, namun bukan jaminan otomatis. Tanpa kebijakan yang berani, inklusif, dan berkeadilan wilayah, bonus demografi justru berisiko berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.
Prof. Adi Utarini menegaskan bahwa investasi kesehatan harus dimulai sejak fase paling awal kehidupan, yaitu 1.000 hari pertama. Kesehatan ibu, kecukupan gizi, ASI, imunisasi, serta lingkungan tumbuh kembang yang aman dan suportif berperan besar dalam menentukan kualitas fisik, kognitif, dan mental anak hingga dewasa. Pengalaman negatif sejak dini, termasuk kekerasan dan perundungan, dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental.
Berbagai tantangan kesehatan generasi muda juga menjadi sorotan, mulai dari stunting, anemia, obesitas akibat pola hidup sedentari, konsumsi makanan ultra-proses, hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular. Selain itu, permasalahan perilaku berisiko seperti merokok, penggunaan rokok elektrik, penyalahgunaan narkotika, serta tingginya angka kehamilan remaja turut memperumit upaya pembangunan kualitas generasi muda.
Kesehatan mental menjadi isu krusial. Satu dari tiga remaja di Indonesia dilaporkan mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir, sementara akses layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. Perkembangan teknologi digital dan tingginya paparan media sosial juga membawa tantangan baru, termasuk cyber bullying, disinformasi, dan menurunnya kualitas interaksi dalam keluarga. Fenomena phubbing—ketika orang tua lebih fokus pada gawai dibandingkan interaksi dengan anak—menjadi perhatian serius dalam pola pengasuhan modern.
Pidato ini juga menyoroti keterkaitan erat antara kesehatan manusia dan lingkungan. Degradasi ekosistem, deforestasi, perubahan iklim, serta menurunnya keanekaragaman hayati berdampak langsung pada meningkatnya risiko penyakit menular, penyakit kronis, dan bencana kesehatan masyarakat.
Di bidang ketenagakerjaan, tingginya pengangguran usia muda, dominasi sektor informal, dan meningkatnya kelompok Not in Employment, Education, or Training (NEET) menunjukkan perlunya perbaikan ekosistem pendidikan dan kerja yang terintegrasi.
Menutup pidatonya, Prof. Adi Utarini mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, akademisi, orang tua, dan masyarakat—untuk bergerak bersama melalui kolaborasi, inovasi, advokasi, dan edukasi. Investasi kesehatan dan kesejahteraan generasi muda diyakini akan menghasilkan triple dividend: manfaat bagi generasi saat ini, generasi dewasa di masa depan, dan generasi berikutnya.
Mewujudkan Indonesia Emas bukanlah pekerjaan satu sektor atau satu generasi. Diperlukan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan berkelanjutan agar tidak ada satu pun generasi muda yang tertinggal.