Pengaruh Suplementasi N-Acetylcysteine (NAC) dan Aspirin Dosis Rendah terhadap Cedera Iskemik-Reperfusi pada Torsio Testis dalam Model Tikus: Kajian pada Spermatogenesis, Enzim Antioksidan, Inflamasi, dan Apoptosis

Ujian Terbuka Program Doktor FKKMK UGM atas nama dr. Sakti Ronggowardhana Brodjonegoro, Sp.U(K)

Disertasi:
Pengaruh Suplementasi N-Acetylcysteine (NAC) dan Aspirin Dosis Rendah terhadap Cedera Iskemik-Reperfusi pada Torsio Testis dalam Model Tikus: Kajian pada Spermatogenesis, Enzim Antioksidan, Inflamasi, dan Apoptosis

Tim Pembimbing:

  • Prof. Dr. dr. Dicky Moch Rizal, M.Kes, Sp. And, Subsp. FER, AIFM
  • dr. Nur Arfian, Ph.D.

Latar Belakang: Torsio testis merupakan kegawatdaruratan urologi yang ditandai dengan terhentinya aliran darah ke testis, dan menimbulkan risiko cedera iskemik-reperfusi (IR) yang memicu stres oksidatif, inflamasi, dan apoptosis. Walaupun sudah dilakukan tindakan orkidopeksi, cedera IR masih dapat menyebabkan penurunan fertilitas. Antioksidan seperti N-acetylcysteine (NAC) dan aspirin dosis rendah diketahui memiliki potensi protektif terhadap cedera IR melalui mekanisme antioksidatif dan antiinflamasi.

Tujuan: Menilai pengaruh pemberian NAC, aspirin dosis rendah, serta kombinasi keduanya terhadap spermatogenesis, tingkat ekspresi mRNA enzim antioksidan (SOD1, GPx), mRNA marker inflamasi (MCP-1, TNF-α), dan marker mRNA apoptosis (Caspase3, BAX) serta protein apoptosis(p53) pada model tikus dengan cedera IR akibat torsio testis.

Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan desain post-test only control group design dengan hewan coba tikus Wistar jantan sebanyak 27 ekor. Subjek dibagi menjadi beberapa kelompok perlakuan berdasarkan waktu torsio (2 jam dan 4 jam) serta jenis intervensi sham, T/D, T/D NAC, T/D Aspirin, dan T/D Mix. Evaluasi dilakukan pada hari ke-7 pasca detorsi dengan pemeriksaan biomarker melalui RT-qPCR dan immunohistokimia, serta analisis histopatologi menggunakan skor Johnsen.

Hasil: Penelitian ini menunjukkan efek NAC, Aspirin dan campuran terhadap tikus dengan T/D. Kelompok T/D NAC, Aspirin, dan Mix menunjukkan ekspresi antioksidan yang lebih tinggi, ekspresi gen inflamasi yang lebih rendah, ekspresi gen dan protein apoptosis yang lebih rendah dibandingkan T/D. Kelompok T/D NAC dan T/D Aspirin menunjukkan ekspresi mRNA GPx yang lebih tinggi dengan ekspresi gen mRNA TNF-α, MCP1, BAX dan Caspase-3 serta protein p53 yang lebih rendah dibandingkan T/D. Kelompok T/D Mix menunjukkan ekspresi mRNA GPx dan SOD1 yang lebih tinggi dengan ekspresi gen mRNA TNF-α, MCP1, BAX dan Caspase-3 serta protein p53 yang lebih rendah dibandingkan T/D.
Kelompok T/D Mix juga menunjukkan ekspresi mRNA SOD1 dan GPx yang lebih tinggi dengan ekspresi mRNA MCP1 dan Caspase-3 yang lebih rendah dibandingkan T/D NAC dan T/D Aspirin. Namun, tidak ada perbedaan skor Johnsen antara kelompok suplementasi dan T/D.

Kesimpulan: Administrasi obat NAC, aspirin ataupun campuran menunjukkan ekspresi gen antioksidan yang lebih tinggi dengan ekspresi gen inflamasi, ekspresi gen apoptosis serta protein apoptosis yang lebih rendah dibandingkan kelompok T/D. Namun demikian, kelompok suplementasi tidak menunjukkan skor Johnsen yang lebih tinggi dibandingkan T/D.

Kata kunci: Torsio testis, cedera iskemik-reperfusi, NAC, aspirin, antioksidan, inflamasi, apoptosis, spermatogenesis.