Ujian Terbuka Program Doktor FK-KMK UGM Atas Nama dr. Anton Sony Wibowo, Sp.THT-KL., M.Sc., FICS
Disertasi:
Ekspresi mRNA PTEN dan EBER pada Saliva Sebagai Biomarker Potensial untuk Mendeteksi Karsinoma Nasofaring
Pembimbing:
- Dr. dr. Sagung Rai Indrasari, M.Kes., Sp.THT-KL(K)., Subsp.Onk(K)., FICS
- Dr. dr. Camelia Herdini, M.Kes., Sp.THT-KL(K)., Subsp.Onk(K)., FICS.
Latar belakang : Karsinoma nasofaring memiliki angka kesakitan dan kematian yang besar di Indonesia. Sulitnya deteksi karsinoma ini karena memerlukan tindakan yang relatif invasif dan kompleks. Saliva merupakan salah satu cairan tubuh yang mengandung materi genetik, seperti RNA yang dapat digunakan untuk deteksi karsinoma. Saliva memiliki potensi untuk deteksi karsinoma secara noninvasif dan sederhana. PTEN dan EBER yang terdapat pada saliva memiliki potensi untuk deteksi karsinoma nasofaring.
Tujuan : Mengetahui ekspresi mRNA PTEN dan EBER pada saliva karsinoma nasofaring dibandingkan dengan ekspresi mRNA PTEN dan EBER pada saliva karsinoma sel skuamosa kepala leher dan individu normal sebagai kontrol.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik uji potong lintang di RSUP Dr. Sarjito dan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, pada pasien karsinoma nasofaring, karsinoma sel skuamosa kepala leher, dan individu normal. Pemeriksaan ekspresi mRNA PTEN dan EBER dilakukan dengan qPCR. Analisis
dilakukan dengan uji bivariat dan multivariat.
Hasil : Subyek penelitian sebanyak 105 pasien. Pada karsinoma nasofaring nilai rata- rata ΔCT PTEN sebesar 5,37 ± 0,89. Pada kontrol, nilai rata-rata ΔCT sebesar 4,17 ± 1,13. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi PTEN dengan nilai p=0,001 (p< 0,005, CI 95 %). Ekspresi relatif PTEN pada kontrol 1,89 kali lebih tinggi dibanding karsinoma nasofaring. Pada karsinoma kepala leher nilai median ΔCT sebesar 5,03 (3,27-7,38). Terdapat perbedaan bermakna ekspresi PTEN karsinoma kepala leher dibanding kontrol dengan nilai p=0,004 (p< 0,005, CI 95 %). Ekspresi relatif gen PTEN pada kontrol 1,61 kali lebih tinggi dibanding karsinoma kepala leher. Tidak erdapat perbedaan bermakna ekspresi PTEN pada karsinoma nasofaring dan karsinoma kepala leher, dengan nilai p=0,108. Pada karsinoma nasofaring nilai rata- rata ΔCT EBER sebesar 4,4 ± 1,83. Pada kontrol, nilai rata-rata ΔCT sebesar 6,02 ± 2,69. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi EBER karsinoma nasofaring dibanding kontrol dengan nilai p=0,004 (p< 0,005, CI 95 %). Ekspresi relatif EBER karsinoma nasofaring pada 7,63 kali lebih tinggi dibanding kontrol. Pada karsinoma kepala leher nilai median ΔCT sebesar 4,96 ± 2,33. Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi EBER karsinoma kepala leher dibanding kontrol dengan nilai p=0,082 (p> 0,005, CI 95 %). Terdapat perbedaan bermakna ekspresi EBER pada karsinoma nasofaring dan karsinoma kepala leher, dengan nilai p=0,004.
Kesimpulan : Ekspresi PTEN pada saliva penderita karsinoma nasofaring lebih rendah secara bermakna dibanding kontrol. Ekspresi EBER pada saliva penderita karsinoma nasofaring lebih tinggi secara bermakna dibanding karsinoma kepala leher dan kontrol.
Kata Kunci : Karsinoma nasofaring, karsinoma sel skuamosa kepala leher, saliva, mRNA PTEN, EBER, deteksi