Telinga merupakan salah satu anugerah paling luar biasa dalam tubuh manusia. Ia menjadi pintu utama masuknya informasi yang memungkinkan kita menjalani aktivitas sehari-hari. Tanpanya, dunia akan terasa tenggelam dalam keheningan.
Di Indonesia, sekitar 10 juta penduduk mengalami gangguan pendengaran. Saat ini, pemeriksaan pendengaran dapat dilakukan dengan berbagai metode yang semakin mudah diakses.
Namun, puluhan tahun silam, seorang guru besar THT dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada membuktikan sesuatu yang luar biasa: bahwa bahasa Indonesia layak digunakan sebagai alat uji pendengaran.
Prof. Dr. dr. H. Soewito Atmosoewarno (alm) merupakan seorang spesialis THTKL dan ahli otologi yang memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu telinga, hidung, tenggorokan, kepala, dan leher.
Melalui dedikasinya sebagai peneliti, praktisi, dan pendidik, beliau terus mengembangkan keilmuan THT. Salah satu fokus utamanya adalah penelitian penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat dalam audiometri tutur.
Sebagai pelopor di Indonesia, beliau menjadi peneliti pertama yang secara serius mengkaji penggunaan bahasa Indonesia untuk mengukur kemampuan pendengaran pasien.
Karya penelitiannya yang melegenda dalam dunia THT mengantarkannya meraih gelar kehormatan. Pada tahun 1985, beliau dikukuhkan sebagai guru besar pertama di bidang THT di Universitas Gadjah Mada.
Selama lebih dari setengah abad, Prof. Soewito telah mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Semua itu tak lepas dari kerja keras dan kedisiplinannya.
Selepas purna tugas, beliau menghabiskan waktu bersama keluarga dalam suasana penuh kehangatan. Kini, kenangan tersebut menjadi warisan yang tak ternilai.
Prof. Soewito telah berpulang, namun ilmu, karya, dan semangatnya akan terus hidup, menjadi inspirasi bagi generasi pendidik dan tenaga kesehatan di masa depan.