Prof. Theerthankar Das, Ph.D
School of Medicine, Ingham Institute, Western Sydney University (NSW, Australia)
Sydney Institute for Infectious Diseases, School of Medical Sciences, The University of Sydney, Australia
Penyalahgunaan antibiotik masih menjadi tantangan besar, terutama ketika obat ini diberikan untuk infeksi yang sebenarnya disebabkan oleh virus. Edukasi bagi masyarakat dan apotek dipandang penting agar penggunaan antibiotik lebih tepat dan tidak memicu resistensi.
Resistensi antibiotik juga perlu dipahami secara menyeluruh melalui pendekatan lintas disiplin. Tidak hanya mikrobiologi, tetapi juga farmakokinetik, farmakodinamik, dan kimia, agar mekanisme kerja obat dalam tubuh dan potensi efek sampingnya bisa lebih jelas. Strategi terapi pun harus dikembangkan secara berlapis untuk meningkatkan efektivitas sekaligus menekan risiko resistensi.
Penelitian terus dilakukan, mulai dari uji laboratorium hingga uji klinis. Salah satunya melalui model hewan, di mana tikus yang terinfeksi diobati dengan molekul antibakteri baru untuk menguji efektivitas pengendalian infeksi. Dukungan dari lembaga riset, pemerintah, dan industri sangat diperlukan agar temuan di laboratorium bisa segera diterapkan dalam praktik klinis.
Belajar dari pengalaman pandemi COVID-19, kesiapan menghadapi resistensi antibiotik harus dilakukan sejak dini. Tanpa langkah nyata, ancaman kesehatan global berpotensi semakin serius.